Jumat, 07 Februari 2014

Dongeng Ayah

"Lalu bagaimana yah? Tikusnya dihukum nggak sama kucing?"

"Oh jelas, sang kucing sangat marah kala itu, dia menyeringai menunjukan taringnya yang tajam lalu menampakan seluruh cakar dari kukunya. Raaoong, terdengar kucing menakuti tikus". Ucap sang ayah sambil menakuti anak perempuannya.

"ah ayah, kasihan tikusnya, apa dia mati?" tanya gadis kecilnya yang semakin penasaran.

"Oke ayah lanjutkan ya nak" sambil merapihkan selimut anaknya yang sedikit terbuka karena cerita tadi. "Melihat kucing yang begitu marah, tuan tikus laangsung mengambil langkah seribu meninggalkan tempat. 'Tungguuu', ucap kucing dengan sigap menangkap ekor tuan tikus, 'Hahaha maafkan aku tikus, aku tidak bermaksud menakutimu, aku hanya bercanda tadi. Justeru aku mau berterima kasih, aku kira kau hendak mencuri makanan, ternyata kau malah menyelamatkan anakku yang terjepit di pintu. Maafkan aku sudah berprasangka buruk padamu, aku sungguh sangat malu' ucap kucing menundukan kepala. 'Aku kira kau hendak memakanku kucing. Ya sudah, aku maafkan kamu, itu memang sudah menjadi tugas kita sebagai sesama untuk saling membantu, lagipula aku juga memiliki tiga ekor anak yang sangat aku cintai'. Akhirnya persahabatan pun terjalin diantara ibu kucing dan tuan tikus. Begitulah seharusnya nak". Dengan halus ayah mengecup kening gadis kecilnya.

Umurnya masih 4 tahun. Gadis kecil itu banyak tanya, banyak mengeluh namun gesit, berani dan rendah hati. Setiap malam dia selalu meminta jatah dongeng ayah, tidak bisa tidak yang artinya harus. Dan karena hal itu juga, dia tidak akan bisa dan mau tidur kecuali diantarkan oleh dongeng ayah.

Sang ayah adalah seorang buruh, setiap harinya bekerja kasar demi mendapat upah. Setiap keringatnya dia artikan sebagai lengkung senyum yang nanti akan ia dapat dari gadis kecilnya.

Aku ingat betul, setiap sore si mungil hanya duduk di ruang tamu, menyiapkan air dan bersiap menunggu ayah. Dan ketika ayah pulang, disambutnya dengan riang, dibereskannya sepatu ke dalam rak, sungguh mulia padahal umurnya masih 4 tahun. Dengan harapan akan ada lagi dongeng ayah nanti malam.

Begitu seterusnya, berulang-ulang. Hingga akhirnya gadis itu memasuki kelas 4 sekolah dasar, tubuhnya tidak semungil dulu, dimana ayahnya pun sudah tidak lagi muda. Ketika pulang kerumah hanya bisa istirahat dan merebah. Apalah daya, dongeng ayah harus pensiun sepertinya.
Dia mengerti betul keadaan itu, tidak lagi gadis kecil 4 tahun yang akan merengek jika tidak ada dongeng ayah. Satu yang ia kagum, "ayahku hebat, mampu menghafal puluhan bahkan ratusan dongeng".

Setelah sekian lama tanpa dongeng ayah, ia datang menemui lelaki tua itu, hanya tersisa sedikit rambut yang masih hitam, badan yang tidak lagi tegap namun semangat serta kasih sayang yang masih hangat.

"Ayah, sudah minum obat?"

"Sudah nak, perhatian sekali anakku ini" ayah tersenyum.

"Yah, masih ingat dongeng tentang ibu kucing dan tuan tikus?"

"uhuk.. Yang mana? Ayah lupa"

"ituloh yah, yang mengajarkan kita untuk berhusnu dzon dan saling ta'awun"

"Ayah benar-benar lupa nak, maaf ya"

"Sudah, jangan ditanyakan lebih lanjut lagi, wong ayahmu itu kalau mendongeng pasti ngarang dan setiap dongeng yang diceritakan, tidak akan ayahmu ingat di esok harinya", tiba-tiba ibu datang.

"Hah? Ngarang bu?" gadis itu kaget.

"Iyalah ngarang, kerjaan kamu itu kan ngambek kalo ndak ada dongeng ayah, dan selalu minta cerita yang berbeda" ucap ibu menjelaskan.

Jadi, dongeng ayah yang selama ini gadis kira dihafal, ternyata hanyalah karangan. "Oh ayah, maaf kan aku", ucapnya dalam hati.

Benih pun tumbuh menjadi tunas, lalu batang.. dan, pohon. Gadis kecil sekarang sudah benar-benar tidak lagi kecil, dia dewasa. Namun tetap, dongeng ayah selalu yang terbaik.

Di bangku taman belakang rumah..

"Yah, bisa karangkan aku lagi satu dongeng terbaik milik ayah?"

"Tentu bisa gadis kecilku, dongeng ayah tetaplah dongeng ayah, yang bisa kau rajuk kapanpun kau minta".

Teruntuk ayahku, ayah dengan dongeng terhebat di dunia. Aku mencintaimu. -V-

Kamis, 06 Februari 2014

Motivasi?

Seseorang kemarin bilang, "sebenernya motivasi itu nggak guna. Cuma sia-sia dan buang tenaga."
Aku yang nggak tahu apa-apa cuma melongo, "lho? Kok gitu kang?"
"iyaa, itutuh sia-sia. Kamu tau karena apa? Karena setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Si Dadang bisa sukses  pake jalan A, tapi si Dudung belum tentu bisa sukses kalo dia pake jalan A, karena ternyata Dudung bisa sukses pake jalan C. Nah gitu kurang lebihnya".

Denger penjelasan kayak gitu vera cuma mikir, dan juga sempet nerima penjelasan si akang tadi. Iya juga sih, dengan keadaan vera yang sekarang, yang berhasil move on *ceilah sombong cuman gitu doang juga* itutuh gak didapet dari waktu yang sebentar, tapi butuh waktu, butuh pengalaman dan sedikit luka HAHAHA :p
Iya, percaya atau enggak, proses itu memang menentukan hasil. Tanpa waktu, pengalaman dan sedikit *sebenernya banyak wkwk* luka yang tadi, vera rasa move on yang sekarang gak akan pernah vera dapet. Malah mungkin bakal tetep berkubang di satu masalah yang sama tanpa ada niat untuk menyelesaikan agar keadaan jauh lebih baik *sadaap xD
Dan ngeliat hasil yang begitu keren ini haha :D vera nyoba buat menginspirasi temen-temen semua biar bisa move on dari satu masalah mereka.
But you know whaaat? Meskipun udah panjang kali lebar atau 2 dikali luas bangunan *loh haha maaf maksudnya meskipun udah sedetail mungkin vera jelasin ke mereka, mereka cuman bisa angguk, tanpa bisa melakukan. Nah! Benerkan? Kayaknya iya deh, tiap orang itu emang udah punya jalannya masing-masing, dan mereka belum tentu bisa move on pake cara vera, mungkin dengan pengalaman yang lain mereka bisa move on :))) jadi motivasi itu emang gak guna, sia-sia brow! :p

Yap, emang sempet itu pikiran nanceb kayak paku di kepala. Tapi vera yakin pasti ada yang salah dari pemikiran ini, karena sebenernya kata "motivasi" itu sama sekali nggak ngandung hal negatif.
Dan akhirnya setelah melewati proses pemikiran yang amat panjang maka vera punya pendapat yang emang udah teruji di ITB dan IPB *loh haha xD
Jadi gini, sebenernya nggak ada yang sia-sia dari yang namanya memberikan motivasi, ini gak jauh beda kayak sekelompok cheer yang teriak-teriak supaya tim basket mereka menang.
Hmm dengan memberikan motivasi itu sama aja kita udah ngebangkitin lagi semangat juangnya dia, dengan motivasi itu sama aja kita udah ngebantu dia sedikitnya supaya bisa berfikir lebih lega dan terbuka.

Iyaa, tapi itu tetep gak guna kok!

Ini guna banget tau, gak mungkin kalo hal sekeren ini kamu anggap nggak berguna. Mungkin setiap orang gak bisa sukses dengan jalan yang sama, tapi seenggaknya dengan motivasi kita bisa bantu mereka buat nemuin jalan yang memang udah jadi garis takdir kehidupan mereka :))) nah itu brow!

So, Stop Complaining, And Just Do It !!!