Jumat, 19 Desember 2014

Mangaaaaaattss

Ibu pernah bilang, "Manusia itu perlu jatuh, mereka harus tahu bagaimana rasanya jatuh agar tahu rasa bersyukur sehingga hidupnya jadi lebih baik".

Bismillah, semangat ya, Vera! ^^

Baca deh

Ini serius. Ini mengenani Crazy Little Thing Called Love atau You're The Apple of My Eye. Mereka terlalu hebat, rasanya banyak perasaan yang bisa muncul gitu aja kalo nonton dua film itu, keren :''')
Udah sih, cuma mau bilang itu aja hehehe

Selasa, 09 Desember 2014

Forgotten

Aku terkejut. Kupikir selama ini aku telah berhasil mengalahkan segalanya. Melepaskan dan merelakan hal yang bukan lagi untukku.

Kita sering bertemu, tak ada yang istimewa, semua biasa saja.
Namun tadi, tetiba dahiku mengernyit, terheran atas apa yang baru saja dirasakan oleh hati. Rasanya seperti ada ledakan, tak tertahan dan bernafas di dalam dada.
Sepele, karena tadi aku hanya melihatmu datang, bukan ke arahku tentunya, karena aku tahu kau tidak akan pernah berjalan kembali setelah peristiwa kemarin.

Lalu sekarang, aku merasa malam sedang mempuisikan segalanya. Tentang aku bukan kita, iya, hanya aku.
Aku hanya tersenyum mendengar sajak kecil milik malam saat ini. Mengingatmu. Memori terputar begitu saja tanpa kuminta. Lalu harapan itu mulai menyemak kembali, seperti tanaman liar tanpa izin yang tumbuh di sabana. Ini menyebalkan.
Tapi aku juga tahu, kau pun sedang tersenyum, bukan? Terbuai oleh sajak yang sama, dan berbisik dalam hati mengucap harap. Iya, berharap dia yang saat ini ada dalam hatimu mampu merasakan getaran dalam dada. Aku tahu, dia.

Desember, 05
Malam di Bantir

Senin, 01 Desember 2014

Keluarga dari Jauh

Tidak terasa, kini aku memasuki bulan keempat tinggal disini. Iya, Semarang, Kota tanpa awan di musim panas. Aku tidak menyangka sebelumnya akan tinggal disini, setidaknya mungkin 3 tahun kedepan (aaamiiin).
Kulitku terlihat lebih cokelat sekarang, mungkin karena kota ini adalah kota tanpa awan di musim panas, sehingga sinar matahari seperti langsung menyinari kota tanpa ada penghalang. Namun aku berani jamin, sinar matahari di kota ini adalah yang paling indah, hangat, setidaknya alergi dinginku jarang kambuh terkecuali di musim penghujan.
Sekarang disini sedang musim penghujan, kukira setiap tempat akan berubah menjadi kota payung. Kau harus tahu bagaimana wajah kota yang sedang disiram hujan, menurutku hujan tetap cantik di kota mana pun ia turun. Aku juga suka melihat mereka yang tidak takut hujan, orang-orang yang tetap beraktivitas meski awan sedang menenun air di atas langit. Karena aku rasa hujan adalah teman, dan bukan halangan untuk melakukan pekerjaan.
Sama seperti disini, orang-orang di kota ini tetap beraktivitas saat hujan, mereka juga ramah-ramah.
Disini aku punya keluarga baru, entah kenapa aku merasa nyaman berada di dekat mereka. Iya mereka adalah Erinda, Erika, Mirza, Mbak Atik, Mbak Ine, dan Mbak Tyas. Banyak bukan? Aku bahagia bertemu mereka disini, setidaknya aku tidak merasa sendiri di kota tanpa awan ini.
Kau harus kenal mereka, ketika tertawa bersama mereka waktu seperti membeku, rasanya seperti sudah lama kenal dan bertemu :')
Alhamdulillah, Allah menyayangiku dengan sempurna. Aku bahagia.

Minggu, 23 November 2014

Just..

Allah, untuk saat ini aku sedang tidak ingin memperbincangkan siapapun denganmu. Biarkan sesuatu yang masih tumbuh di hati ini mulai meredup, bukan menghilangkan atau melupakan namun itu cara agar aku merelakan dan mengikhlaskan.
Allah, aku nyaris lupa, tentang bagaimana dulu bisa kembali berjalan setelah terjatuh dan terjerembap dalam duka kehidupan. Aku hanya tidak sabar kembali bersinar dan cepat melupakan perasaan nanar.
Allah, aku percaya pada setiap takdirMu, bahwa tidak ada cerita yang kurang atau yang lebih, semuanya sudah sesuai. Sempurna, Sesempurna Engkau atas makhlukMu. Tentang pertemuan atau perpisahan yang selalu punya tujuan, aku paham, sepenuhnya itu pasti yang terbaik.
Allah, segalanya sudah kuserahkan padaMu, apapun itu, dimanapun itu, siapapun dia, terserah Engkau. Sebab aku percaya, takdirMu lah paling sempurna.

"Tidak ada yang salah dengan bersabar, jadilah bahagia oleh karenanya." -- verameydi

Kamis, 20 November 2014

Jangan berhenti, tetap begini, agar aku bisa pergi, dan kau bahagia lagi.

Mengerti

Pergi tidak selalu hilang peduli. Kembali tidak selalu mengulangi. Menanti tidak selalu menetap disini. Dan kata "maaf" selamanya tidak akan pernah terbeli. Namun kau lupa, bahwa cinta selalu memberi tanpa harus diminta. Apapun itu.
Maaf.

                
                            semarang, 22:22
                                verameydi

Being Alone

Aku suka berbicara dengan orang banyak, berkumpul, bercanda, saling tertawa atau membagi duka bersama mereka. Menyenangkan.
Namun, terkadang aku merasa menjadi sendiri itu lebih nyaman. Meskipun sepi, namun setidaknya tidak ada gaduh yang membuatku kecewa. Tentram.

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.” (Bung Karno, 1933)

Senin, 10 November 2014

A Thousand Memories Of Night

Tanpa kita sadari, sebenarnya malam lebih mampu meresonasikan kenangan dibanding hujan dan sebait lagu. Malam selalu memberimu waktu untuk berfikir, terutama mengingat :')

Dan kamu, semoga tidak melupa untuk sekedar mengingat, bahwa pernah ada tawa semanis bianglala yang kita cipta.

Minggu, 09 November 2014

Bimbang

Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap
Bila malam telah datang
Terkadang ingin ku tulis semua perasaan

Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku fikirkan untuk ku benci
saja dirimu
Namun sulit ku membenci

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada disatu
Persimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupku

Hikmah yang ku rasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh diriku

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada disatu
Persimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupku

Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab,
Biarkan saja, itu urusan waktu.
Bukan aku.

BersamaMu Selalu Lebih Baik

Allah, Engkau yang Maha Tahu, maka jangan izinkan aku menjadi hambaMu yang sok tahu.
Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati, maka izinkan aku menjaga hati yang telah Kau percayakan agar aku tidak salah dalam bertindak maupun berucap.
Allah, Engkau yang Maha Berkuasa, maka jangan izinkan aku menjadi hamba yang lemah mudah menyerah dan berhati kerdil.
Allah, aku takut, sungguh takut, bahwa aku tidak bisa berbuat yang semestinya, bahwa aku tidak bisa menjaga yang semestinya, bahwa aku tidak bisa menjadi wanita dan hamba yang semestinya.
Allah, kuatkan aku, agar aku mampu menjalani hidup seperti seharusnya, sebagai hamba yang sholehah, anak yang berbakti, teman yang baik dan istri yang sempurna kelak. Amin.

Jumat, 07 November 2014

Heartwarming, AADC Reuni.

Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu.
Karena cinta, waktu terbagi dua
Denganmu dan rindu untuk membalik
masa
Detik tidak pernah melangkah mundur tapi kertas putih itu selalu ada
Waktu tidak pernah berjalan
mundur
Dan hari tidak pernah terulang
Tetapi pagi selalu menawarkan cerita
yang baru
Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab

Love, Life, L*ne.

Rabu, 05 November 2014

Selasa, 04 November 2014

Senin, 03 November 2014

Ini Hanya Tentang Takdir

Beginilah kiranya kehidupan, selalu ada sosok-sosok yang selalu membuat kita tenang dan nyaman ketika berada di dekatnya. Dan sosok pembuat ketenangan itu sejatinya hadir saat takdir telah menetapkan sosok itu untuk hadir.

-Kalimat milik kak Luthfi-

Like a Metamorf

Beritahu aku, Allah, apakah ini saatnya aku untuk berhenti mencari?
Mengapa perasaanku berubah-ubah setiap menit?
Menit yang lalu bulat sudah keputusanku untuk berhenti. Menit selanjutnya aku kembali bertanya "kapan aku harus berhenti mencari?"
Allah, aku tahu ini caramu membuatku belajar. Agar aku berhenti melihat kesalahan orang lain dan mulai bercermin.
Allah, aku juga tahu ini caramu mengasihiku. Agar aku tidak salah dalam mengambil keputusan yang belum tentu baik untukku.
Allah, jangan biarkan senyumku meredup sepagi ini.
Ajarkan aku, Allah,  mengenai cara tersenyum saat Engkau sedang mengajari dan mengasihiku seperti ini. Entah mengapa rasanya sangat sakit disini. Padahal aku tahu betul betapa baiknya Engkau padaku.

Allah, setelah aku belajar nanti, berilah aku kembali kepercayaan. Berilah aku kembali tanggung jawab.
Atas semua yang akan Kau beri padaku di hari nanti. Izinkan aku untuk belajar menjaga, Allah, mempertahankan semua pemberianmu dengan cara bersyukur dan melakukan kesempatan itu dengan baik.
Allah, terimakasih banyak sudah mau mendengar banyak doaku.

Yang Meredup Perlahan

Aku tahu, Tuan, kau baik-baik saja saat ini. Aku juga tahu bahwa kau sangat bahagia. Namun tidak kah kau peduli pada aku yang tak baik-baik saja? Namun tidak kah kau peduli pada aku yang sedang menderita?
Terimakasih untuk semua jawabanmu, sekarang aku tahu betapa jarak dan waktu tidak perlu repot-repot menghilangkan aku. Ternyata kau lebih mampu melakukannya.
Namun aku lebih berterimakasih kepada Allahku, yang tidak membiarkan kita menjadi satu sebelum benar-benar matang. Kau lihat? Goncangan sekecil ini saja mampu membalikan perahu kita.

Tuan, karena cinta adalah perjuangan. Bukan satu tapi dua. Bukan sendiri namun saling.
Maaf, telah membuatmu berhenti berjuang.. Dan terimakasih telah mengajarkanku untuk berjuang sebelum akhirnya berhenti memerjuangkan.

Minggu, 02 November 2014

Cepat Pulang

Kembali disini, dan jangan pernah pergi lagi. Aku berjanji, takkan ada lagi keakuanku atau kekamuanmu, karena yang ada hanyalah kebersamaan kita.

Maaf.

Maafkan aku untuk semua rasa sakitmu, terkadang aku terlalu malu untuk mengaku.
Maafkan aku untuk semua rasa kecewamu, terkadang aku terlalu malu untuk merindu.
Maafkan aku untuk semua penyesalanmu, terkadang aku terlalu malu untuk sekedar datang dan memintamu kembali.
Aku rela, jika kau memutuskan untuk pergi meski lagi-lagi aku harus mengingkari hati. Aku rela, jika kau memilih bersikap dingin dan menganggap seolah aku tidak ada. Namun aku takkan pernah rela, jika kamu memilih diam, menahan kecewa karena tutur dan sikapku yang menggores luka. Maafkan aku, untuk sekedar mengaku pun aku tak mampu. Maaf.
Aku tahu seberapa layak kata maaf kuucapkan. Itu tidak cukup bukan? Maka beritahu aku, bagaimana cara untuk menyusun kembali hatimu yang hancur, bagaimana cara memahami perasaanmu yang kini mulai membeku. Jika kau benar-benar memilih berhenti berada disini, setidaknya izinkan aku membuatmu pergi dalam keadaan lega, bukan bersama luka. Sebab aku tahu, bahwa maaf tidak mampu menghapus kecewa.

Untukmu, pria dengan hati paling luas, maafkan aku untuk kekalahan kita yang belum sempat terjuangkan.

Puzzle Harapan

Terkadang mencintai itu perkara menghubungkan. Yaitu mengira-ngira dan mengaitkan segala peristiwa pada apa yang kita harapkan. Bahagia jika benar, namun kecewa jika ternyata itu salah.

Hilang

Ada yang pergi memang untuk kembali, namun ada pula yang pergi dan tidak ingin mengulangi.
Kamu yang mana?
Pada kilometer berapa kamu akan berhenti dan memulai untuk merinduku lagi?
Sekarang aku masih bisa melihat punggungmu, yang berjalan semakin jauh. Jauh. Jauh. Dan. Mungkin. Hilang.
Tapi tunggu, sepertinya kamu tidak akan pernah hilang. Kamu itu abadi, setidaknya di dalam hati.
Kamu harus tahu, bahwa yang hilang bukanlah kamu, tapi aku. Waktu dan jarak lebih kuasa menghapus aku dari hatimu. Meski kamu bilang bahwa kamu menyayangiku, tapi aku sungguh tahu, akan ada masanya aku kembali terlupakan.
Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap mengingatku, karena aku akan tetap hilang. Aku ikhlas.
Namun izinkan aku berterimakasih padamu. Untuk ribuan tiktok jam yang kamu lewati bersamaku, untuk ribuan percakapan konyol yang kita tertawai bersama, atau pengorbananku untuk tetap bertahan ketika larut malam agar bisa berkirim pesan singkat denganmu. Mercy.
Kamu.. Aku akan selalu mendoakanmu untuk segala hal yang terbaik. Untuk segala hal yang kamu inginkan. Untuk segala hal yang pantas kamu dapatkan.
Kamu.. Aku tidak akan berdoa agar kamu tetap mengingatku, apalagi merindukanku yang sedang menahan tangis karena mengingatmu.
Kamu.. Aku akan tetap hilang, kecuali kamu ingin pulang dan aku akan ditemukan.

Aku bisa!

Tenang Vera, nggak boleh cengeng :') Allah kamu tahu yang terbaik. Pasti ada hikmah dari semua ini. Kamu harus belajar, belajar memperbaiki, belajar sabar, belajar lebih baik, belajar menjadi kuat ketimbang nangis dan menyesal.
Perasaan tetap perasaan. Hati pun demikian. Yang bisa mengendalikan cuman kamu, yang bisa mengobati cuman kamu, karena kamu adalah nahkoda atas perahu hati milikmu. Tidak peduli sesakit atau sebesar apapun luka yang kamu derita, kamu harus tetap bertahan. Dia yang kamu sebut diam-diam dalam doa akan kembali jika memang takdirmu. Dia yang kau kecewakan tidak akan diam dan menelan dendam jika dia benar mencintaimu. Dia yang tulus mencintai akan tetap berjuang untuk bisa bersama dan melindungimu.
Namun jika dia tak kunjung kembali percayalah, Allah punya takdir yang lebih baik dari ini. Kamu hanya perlu bersabar dan belajar. Biarkan dia dengan jarak yang ia minta. Biarkan waktu menggenapkan tanya. Biarkan harapanmu tumbuh namun tidak membunuh. Kamu harus janji Vera, bahwa kamu akan menjadi perempuan yang lebih baik lagi, perempuan yang selalu ada dalam ridha Allah.
Bismillah, Vera bisa!

Rabu, 10 September 2014

Rindu Mengutuk! Rindu Memeluk!

Aku tahu, sekarang terlalu pagi untuk menangis.
Aku tahu, sekarang terlalu pagi untuk meminta kembali.
Aku tahu, sekarang terlalu pagi untuk berada di samping mereka.

Kalian tidak akan mengerti, ketika rindu mulai datang dan mengutuk bagai seorang Tuhan.
Kalian tidak akan mengerti, ketika dinding jarak terlihat semakin tinggi dan ia menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya seperti srigala yang siap memangsa.
Kalian tidak akan mengerti, tentang lemah dan kuat, bahwa menangis tidak selalu karena lemah, tidak selalu karena cengeng. Saat hati sudah tak mampu memeluk beban yang ada, maka dikeluarkannya melalui mata hingga ia bisa merasa kuat lagi dan mampu kembali berjuang. Menangis adalah pengumpulan tenaga yang baru bukan tanda kandas apalagi menyerah.

Ibu, aku ingin, sungguh ingin, berlari berhamburan untuk memelukmu secepatnya lalu membunuh semua rindu atau jarak yang selama ini membuatmu takut.
Ibu, aku ingin, sungguh ingin, tertidur lagi dalam pelukanmu yang nyata, lalu kau mengawasiku tiap waktu, menatapku lekat dalam diam agar aku tak diganggu malam.
Ibu, aku ingin, sungguh ingin, mendengar lagi bisikan-bisikan doa dan harapanmu di telingaku dengan tangan yang tidak pernah lepas untuk menggenggamku.

Ibu, aku rindu, sungguh sangat rindu. Namun tak ada yang bisa kulakukan selain berdoa dan bertasbih kepadaNya, meminta dengan sungguh agar kau tetap bahagia.

Ibu, aku janji akan cepat kembali, menemuimu dengan membawa sejuta kebanggaan lalu kita bisa mengukir senyum bersama.

Anakmu,
Semarang, 10 September 2014

Sabtu, 12 Juli 2014

Episode Kelabu

Seperti kemeja putih ayah yang terjatuh dalam selokan 10 tahun lalu, langitnya Bandung terlalu kelabu tadi sore. Belum lagi kemacetan yang semakin hari malah semakin parah, klakson disana-sini, membuat gerimis kecil yang sedari tadi membasahi bajuku tampak semakin sempurna. Sekarang Bandung tidak se-kembang dulu!

Sore ini kami pergi menyusuri kota Bandung dengan niat dan harapan yang baik. Meskipun hanya berdua tapi itu bukan masalah bagi kami. Pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, bertanya sana-sini berharap mendapat informasi sesempurna mungkin, tak sedikit juga obrolan "diplomatis" yang kami lakukan berharap mendapat hasil manis untuk mereka. Sedang waktu semakin ranum, keringat bercampur gerimis membuat baju semakin lembab, lengket. Ah tak apa.
Dan kami masih nihil.
Akhirnya kami harus pulang meski tanpa membawa hasil. Tidak seperti ketika pergi, saat pulang kami lebih banyak diam. Entah karena hujan yang semakin menderas atau rasa kecewa karena pulang tanpa ada satupun yang bisa dibawa.
Aku sendiri lebih banyak berfikir, menerka-nerka musabab episode hari ini. Mungkinkah karena ada niat kami yang keluar dari garis yang semestinya? Atau mungkin kami kurang bersungguh dalam melakukannya? Hm apapun itu semoga bukan keduanya, semoga ini hanya sepotong cerita kecil yang Dia rencanakan untuk kami, untuk mereka. Mungkin bukan di hari ini, mungkin bukan juga di sore ini ketika langit sekelabu kemeja putih ayah yang terjatuh di selokan. Dan mungkin juga bukan di hari ketika Bandung tidak se-kembang dulu. Mungkin esok..
Mungkin nanti..
Ya, semoga saja..
Kami, pejuang matahari tidak pernah menyerah untuk bermimpi.

----
curhat lagi
Bandung, 12 Juli 2014

Rabu, 02 Juli 2014

Tentang menerima

Benar, kan? Sudah kubilang akhir bahagia itu memang bukan milik kita.
Seperti mencari sebuah jarum dalam tumpukkan jerami, seperti mencegah tumpahnya aliran air terjun. Sekuat apapun kita memaksa, jika jalan telah tergariskan, bisa apa?

Dengan sangat berhati hati kau menuntunku, kita seperti meniti berjalan diatas sebuah tali yang akhirnya akan jatuh juga. Atau seperti menjaga gelembung udara tipis yang pasti akan pecah. Seperti itulah kenyataannya.
Tapi maaf, tidak seharusnya ini diteruskan. Kau harus paham, sebaik apapun kita berencana, ingin ini, ingin itu dan lainnya, tetap ada Dia yang Maha Tahu atas segalanya. Mau kau bilang aku pengecut karena memilih menyerah dan menerima ketimbang terus berjuang dan bertahan bersamamu, terserah.
Kita bisa apa?
Leleh mataku dan matamu.tidak cukup untuk mengubah takdir.
Namun lapang dadaku.dan dadamu mampu mengubah takdir dengan cara menerima.
Denting waktu akan menjawabnya, karena tidak ada pengorbanan yang sia-sia.
Percayalah.

Selasa, 01 Juli 2014

Cerita Untuk Malam

Tidak ada bintang gemintang malam ini, bahkan bulan pun memilih bersembunyi dibalik selimut langit. Mungkin karena bekas hujan tadi, malam terlihat tetap murung seakan tak berteman; mendung.
Padahal malam ini ada banyak cerita yang ingin kubagi dengan mereka. Semilir angin pun tak jadi masalah buatku, asalkan cerita ini berhasil kuhatamkan pada malam.

Kalian tahu ini apa namanya?
Ada degup syahdu yang sudah lama tak pernah kudengar kini samar kembali kutemukan. Ada nyanyian khas yang mendayu seolah mengajak aku bersenandung menghibur pengap pada cerita lama. Ada senyum harapan baru terlukis dari uap coklat panas yang kuseduh dalam hujan. Dia.

Aku selalu berfikir bahwa tidak ada yang kebetulan.di dunia ini, sampai aku bertemu dengan kebetulan yang benar-benar kebetulan. Kebetulan sekali dia adalah temannya dia yang juga belum pernah kukenal sebelumnya.
Dan kau tahu? Ternyata aku salah, terkadang ada beberapa awal yang tidak menentukan akhir. Awalnya kami selalu dihijab oleh canggung yang begitu elok, tidak istimewa. Tapi kini malah jadi berbeda, semua tampak hangat, ramah bahkan terlalu nyaman. Ganjil.

Ceritaku masih terlalu fajar untuk diterka bagaimana bentuk senjanya, aku juga tak begitu peduli. Nalar sudah bagiku tentang "definisi cinta milik Tere Liye". Mungkin sekarang ganjil, tapi biarkan kisah (baca: cinta) itu sendiri menggenapkan akhirnya. Mungkin satu, atau dua. Mungkin bersama atau menetap begini.

Bandung, tanggal baru di bulan Juli 2014.

Minggu, 08 Juni 2014

Dua Hari Milik Apin

Udah dua hari Apin nggak bangunin orang rumah buat minta makan.
Udah dua hari Apin nggak mau vera ajak main, dia cuman mau tidur dan bengong.
Udah dua hari Apin juga berhenti makan sama minum.
Udah dua hari vera nggak digigit Apin, nggak dicakar Apin. Tapi selama dua hari kemarin vera tetep peluk Apin, elus-elus Apin, nyuapin Apin meskipun nggak ada satu makanan pun yang Apin makan kecuali air.
Kami khawatir..
Hingga tadi shubuh, tiba-tiba Apin pergi keluar dari rumah, vera pikir Apin mau pup atau pee jadi vera biarin Apin buat keluar. Tapi sampai pagi bahkan siang pun Apin belum pulang juga.
Adikku yang kecil akhirnya cari Apin, "Apiiin.. Apiiin.." biasanya akan ada empat kaki kecil yang berlari ke arah kami, tapi siang ini tidak ada.
Tidak lama vera dengar suara tangisan adik vera, suaranya amat keras sehingga tetangga disamping rumah kami tahu.
Hanya dua hari. Iya, hanya dua hari Apin bisa bertahan.
Adikku menemukannya di ujung rumah-rumah, di tempat yang sangat tertutup. Bulunya masih putih, wajahnya tetap lucu, iya itu Apin kesayangan vera. Dia tertidur amat tenaang, badannya sudah kaku. Dingin. Ini seperti bukan Apin, dia selalu hangat walau tanpa dipeluk :'(
Vera bergetar, bahkan pelukan vera kali ini nggak bisa ngembaliin hangat tubuhnya Apin.
Kami kehilangan Apin...

Banyak orang bilang, kucing selalu pergi meninggalkan rumah ketika ia tahu akan mati. Katanya, kucing tidak mau merepotkan pemiliknya. Vera nggak pernah percaya. Sampai hari ini Apin melakukan hal itu untuk kami. Tidak mengherankan juga Apin ada di balik seng yang hampir tertutup. Apin benar-benar sembunyi dari kami. Maafin vera, ya, Apin. Vera, ibuk sama yaya disini sayang banget sama Apin. Maafin vera nggak bisa jaga Apin sampe kita sama-sama punya anak :')
Vera sayang Apin.

Sabtu, 10 Mei 2014

Mengeja Hujan; Mengeja Namamu

Semalaman aku terjaga,
Mengeja hujan yang entah mengapa tak kunjung reda.
Menatap mereka dari jendela,
Yang sibuk menyanyikan lagu gemericik oleh sebab berjatuhan.
Sedang aku hanya termenung, hanya mengeja hujan.
Mungkin aku terlalu mengagumi hujan, meskipun terkadang aku kesal karena hujan turun terlalu dingin, dan yang mereka tahu hanyalah jatuh, bernyanyi, lalu membiarkan hal yang baru untuk tumbuh lalu menggantikan yang lama. Iya, sebenarnya itu proses dari Tuhan yang Maha Indah. Namun dengan begitu, hujan tidak pernah menyadari keberadaanku, yang hanya bisa mengagumi di balik jendela. Tapi tak apalah, bagiku, ini sudah cukup.

Aku tetap mengeja hujan. Menghubungkan aksara-aksara bisu milikmu.
Entah mengapa, kau telah berubah menjadi dingin sejak minggu kemarin.
Tidak seperti biasanya, tersenyum dan bercerita sepanjang hari bersama mereka yang kau kenal.
Atau duduk sendiri di pekarangan belakang untuk membaca buku yang entah judulnya apa.
Apa yang membuatmu berubah?
Sudah jelas aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, menatapmu dari dekat pun tidak berani kulakukan. Malah pernah aku kikuk-se-kikuk-kikuk-nya karena tak sengaja kulihat kau tersenyum ke arahku yang dengan segera kumemalingkan wajah. Hampir saja, hatiku berbisik.
Aku tidak berharap lebih dari ini. Ketika mereka bilang ini emansipasi dan wanita bisa mengutarakan perasaanya lebih dulu, malah sama sekali tidak terpikirkan olehku.
Ibuku pernah bilang, "bahwa setiap cerita sudah ada hulu dan muaranya masing-masing, maka biarkan ceritanya mengalir jauh, yang perlu kau lakukan hanyalah menjaga alirannya agar tetap baik".
Pemahaman yang cukup baik aku mengerti saat itu, meskipun aku masih kelas 2 SMA.

Aku masih mengeja hujan, mendengar nyanyian-nyanyian kecil mereka dan aroma tanah basah yang paling aku suka.
Kau..
Tetaplah jadi hujanku yang terus aku eja tanpa kau sadari.
Kau..
tetaplah bernyanyi merdu diujung sana lalu biarkan aku memperhatikanmu pelan-pelan.
Bagiku, ini sudah cukup.
Sangat cukup.
Aku; sang pengeja hujan.
          

                       Bandung, 10 Mei 2014
                               verameydi~

Rabu, 07 Mei 2014

Tidak Usah Dibaca.

"Seharusnya aku baik".

Kita Sedang Hidup

Hidup mengajarkanmu lebih dari tertawa, menangis, bercanda, bertemu, berpisah atau sekedar bernafas.
Namun jauh dari itu, hidup adalah menjalani. Biarkan tawa itu menghiburmu atau tangis itu menyadarkanmu. Jalani lalu nikmati.

Hidup juga bukan hanya tentang bagaimana awal suatu permulaan atau akhir dari sebuah kisah. Namun jauh dari itu, hidup adalah proses. Tentang bagaimana kita belajar lalu berubah menjadi baik.

Hidup juga bukan hanya tentang melawan atau menolak. Namun jauh dari itu, hidup mengajarkan kita untuk ikhlas, sehingga kita bisa menerima, berlapang dada juga berpasrah.

"Dan aku sekarang sedang hidup, maka aku harus hidup (dengan baik).."
                    
                             
  
                     kamarku, 7 Mei 2014
                          verameydi ~

Selasa, 22 April 2014

Kau Siapa?

Lalu kau bertanya "siapa aku?"
Ucapmu penasaran.
Aku sendiri bingung menjabarkannya, kau siapa? Kau itu apa? Dan mengapa harus kau? kita yang sudah melangkah, mencoba mencari celah dari kehidupan lalu yang lelah. Hanya dengan mengucap
bismillah semoga ridha diberikan oleh Allah.

dan apakah kau tah? ehidupan itu lucu, ini mengenai orang-orang yang kadang datang
kemudian hilang. Iya, seperti kau, kau yg saat ini datang di hidupku, membawa cerita baru dan semangat baru. Yang suatu saat nanti akan pergi, itu pasti, entah karena usia atau takdir yang berbeda.
Lalu kau siapa?
Mudah saja, kau adalah cinta.




                               Bandung,
                              15 Januari 2014
                               verameydi

Kamis, 17 April 2014

Mereka Datang untuk Aku

Malam ini begitu panjang
Malam ini terlalu hilang,

Selarut sekarang ada tetesan kecil yang membasahi bantalku,
Ada isakan pelan karena tertahan agar tidak ada satu orang pun yang tahu.

Mereka kembali datang malam ini, menjelma hawa dingin di tengah malam. Tak bersuara namun sangat terasa.
Mereka yang telah lama hilang ditelan waktu dan tidak pernah aku pertanyakan.
Iya, mereka yang kuputuskan untuk aku tinggalkan dan relakan. Kenangan.

Tak terkira, yang aku tahu, aku yang sekarang adalah baru, yang bersiap untuk bertumbuh dan melepas dahan-dahan kering.
Yang aku tahu, aku yang sekarang adalah tegar, berjalan dan berjuang tanpa melihat lagi ke belakang.

Namun aku salah, mereka lebih mampu mengguncang seluruh tubuhku. Memutar habis segala ingatan, mengingat cerita lama yang menurutku pilu.

Lama sudah aku mengutuk mereka. Kisah lalu yang menyiksa hati.
Sebab, yang aku tahu dulu itu bodoh, yang aku tahu dulu itu konyol.
Ribuan tangis terlalu perih, menggores luka oleh sebab satu nama. Engkau.
Sekarang, otakku penuh teringat engkau..
Senyum perkenalan,
Obrolan aneh,
Aroma tubuhmu yang melekat di hidungku,
Tawa renyah milikmu,
Atau tatapan murung penuh kepura-puraan oleh sebab kepergianku. Semua terlalu jelas
Terlalu pedih
Terlalu... Sulit untuk dilupakan. Dan aku benci ini terjadi.

Lelah aku terus begini, lari dari mereka sungguh percuma, hanya semakin menyesakan

Sekarang,
Masih di detak jarum jam dinding yang sama,
Aku mengerti,

Mereka datang bukan untuk membuka luka, menebar kebencian atau memaksaku untuk kembali lupa.
Tapi,
Mereka datang untuk berdamai, agar aku berhenti mengutuknya tanpa pernah mau belajar.
Mereka datang untuk membelai kasih, mengingatkan rindu dan cerita indah yang tidak semuanya berakhir pilu.
Mereka datang untuk memeluk, agar aku bertambah tabah tanpa takut teringat kata lalu.
Iya,
Mereka datang untuk aku.

                  
       
                                     Bandung,
                                    17 April 2014
                                    23:23
                                    verameydi

Sabtu, 05 April 2014

Air Mata Penuh Anugrah

Entah mulai kapan aku mencintai hujan. Rintik air yang turun dari selimut bumi itu seringkali menjelma lorong waktu yang bisa menyeretku kembali ke masa-masa dulu. Sayangnya, tak banyak hal yang menyenangkan dari masa lalu. Mereka hanyalah puing kehidupan, dan buatku mereka tidak perlu banyak dikenang, hanya akan menguras lelah nantinya.
Dan malam ini, langit kembali menenun kisahnya melalui awan. Karena jumlahnya yang tak lagi tertahankan, mereka yang kucinta akhirnya kembali datang.
Aku malas bertemu wajah kusam dari masa lalu. Entah harus apa, bahagia atau kecewa. Karena aroma tanah basah adalah aroma terbaik yang Allah cipta, karena gemericik air yang menari adalah suara terindah dari Tuhan dan tidak bisa kupungkiri resonasi kisah-kisah itu adalah juga keagungan Allah yang dititipkan melalui hujan.
Sesak memang, jika aku harus kembali mengenal luka yang seharusnya sudah pergi jauh. Tapi tahukah engkau? Hujan dan resonasinya bukanlah alasan untuk kembali termenung, terduduk dan terseguk oleh sebab luka. Anugrah itu ikut turun bersama hujan sebab Allah mu ingin supaya engkau dapat mengingat kembali masa lalu agar dijadikannya pelajaran, sehingga tidak terjadi hal yang serupa. Maha Besar Allah ku.
Bergembiralah kawan, sebab engkau baru saja dikasihi olehNya. Tanaman pun tahu arti bersyukur, maka tidak sepantasnya kalian lupa dan menjadi buta. Bukan keluhan atau kata menyesal. Hujan itu indah, bukan? Syukurilah.

Jumat, 07 Februari 2014

Dongeng Ayah

"Lalu bagaimana yah? Tikusnya dihukum nggak sama kucing?"

"Oh jelas, sang kucing sangat marah kala itu, dia menyeringai menunjukan taringnya yang tajam lalu menampakan seluruh cakar dari kukunya. Raaoong, terdengar kucing menakuti tikus". Ucap sang ayah sambil menakuti anak perempuannya.

"ah ayah, kasihan tikusnya, apa dia mati?" tanya gadis kecilnya yang semakin penasaran.

"Oke ayah lanjutkan ya nak" sambil merapihkan selimut anaknya yang sedikit terbuka karena cerita tadi. "Melihat kucing yang begitu marah, tuan tikus laangsung mengambil langkah seribu meninggalkan tempat. 'Tungguuu', ucap kucing dengan sigap menangkap ekor tuan tikus, 'Hahaha maafkan aku tikus, aku tidak bermaksud menakutimu, aku hanya bercanda tadi. Justeru aku mau berterima kasih, aku kira kau hendak mencuri makanan, ternyata kau malah menyelamatkan anakku yang terjepit di pintu. Maafkan aku sudah berprasangka buruk padamu, aku sungguh sangat malu' ucap kucing menundukan kepala. 'Aku kira kau hendak memakanku kucing. Ya sudah, aku maafkan kamu, itu memang sudah menjadi tugas kita sebagai sesama untuk saling membantu, lagipula aku juga memiliki tiga ekor anak yang sangat aku cintai'. Akhirnya persahabatan pun terjalin diantara ibu kucing dan tuan tikus. Begitulah seharusnya nak". Dengan halus ayah mengecup kening gadis kecilnya.

Umurnya masih 4 tahun. Gadis kecil itu banyak tanya, banyak mengeluh namun gesit, berani dan rendah hati. Setiap malam dia selalu meminta jatah dongeng ayah, tidak bisa tidak yang artinya harus. Dan karena hal itu juga, dia tidak akan bisa dan mau tidur kecuali diantarkan oleh dongeng ayah.

Sang ayah adalah seorang buruh, setiap harinya bekerja kasar demi mendapat upah. Setiap keringatnya dia artikan sebagai lengkung senyum yang nanti akan ia dapat dari gadis kecilnya.

Aku ingat betul, setiap sore si mungil hanya duduk di ruang tamu, menyiapkan air dan bersiap menunggu ayah. Dan ketika ayah pulang, disambutnya dengan riang, dibereskannya sepatu ke dalam rak, sungguh mulia padahal umurnya masih 4 tahun. Dengan harapan akan ada lagi dongeng ayah nanti malam.

Begitu seterusnya, berulang-ulang. Hingga akhirnya gadis itu memasuki kelas 4 sekolah dasar, tubuhnya tidak semungil dulu, dimana ayahnya pun sudah tidak lagi muda. Ketika pulang kerumah hanya bisa istirahat dan merebah. Apalah daya, dongeng ayah harus pensiun sepertinya.
Dia mengerti betul keadaan itu, tidak lagi gadis kecil 4 tahun yang akan merengek jika tidak ada dongeng ayah. Satu yang ia kagum, "ayahku hebat, mampu menghafal puluhan bahkan ratusan dongeng".

Setelah sekian lama tanpa dongeng ayah, ia datang menemui lelaki tua itu, hanya tersisa sedikit rambut yang masih hitam, badan yang tidak lagi tegap namun semangat serta kasih sayang yang masih hangat.

"Ayah, sudah minum obat?"

"Sudah nak, perhatian sekali anakku ini" ayah tersenyum.

"Yah, masih ingat dongeng tentang ibu kucing dan tuan tikus?"

"uhuk.. Yang mana? Ayah lupa"

"ituloh yah, yang mengajarkan kita untuk berhusnu dzon dan saling ta'awun"

"Ayah benar-benar lupa nak, maaf ya"

"Sudah, jangan ditanyakan lebih lanjut lagi, wong ayahmu itu kalau mendongeng pasti ngarang dan setiap dongeng yang diceritakan, tidak akan ayahmu ingat di esok harinya", tiba-tiba ibu datang.

"Hah? Ngarang bu?" gadis itu kaget.

"Iyalah ngarang, kerjaan kamu itu kan ngambek kalo ndak ada dongeng ayah, dan selalu minta cerita yang berbeda" ucap ibu menjelaskan.

Jadi, dongeng ayah yang selama ini gadis kira dihafal, ternyata hanyalah karangan. "Oh ayah, maaf kan aku", ucapnya dalam hati.

Benih pun tumbuh menjadi tunas, lalu batang.. dan, pohon. Gadis kecil sekarang sudah benar-benar tidak lagi kecil, dia dewasa. Namun tetap, dongeng ayah selalu yang terbaik.

Di bangku taman belakang rumah..

"Yah, bisa karangkan aku lagi satu dongeng terbaik milik ayah?"

"Tentu bisa gadis kecilku, dongeng ayah tetaplah dongeng ayah, yang bisa kau rajuk kapanpun kau minta".

Teruntuk ayahku, ayah dengan dongeng terhebat di dunia. Aku mencintaimu. -V-

Kamis, 06 Februari 2014

Motivasi?

Seseorang kemarin bilang, "sebenernya motivasi itu nggak guna. Cuma sia-sia dan buang tenaga."
Aku yang nggak tahu apa-apa cuma melongo, "lho? Kok gitu kang?"
"iyaa, itutuh sia-sia. Kamu tau karena apa? Karena setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Si Dadang bisa sukses  pake jalan A, tapi si Dudung belum tentu bisa sukses kalo dia pake jalan A, karena ternyata Dudung bisa sukses pake jalan C. Nah gitu kurang lebihnya".

Denger penjelasan kayak gitu vera cuma mikir, dan juga sempet nerima penjelasan si akang tadi. Iya juga sih, dengan keadaan vera yang sekarang, yang berhasil move on *ceilah sombong cuman gitu doang juga* itutuh gak didapet dari waktu yang sebentar, tapi butuh waktu, butuh pengalaman dan sedikit luka HAHAHA :p
Iya, percaya atau enggak, proses itu memang menentukan hasil. Tanpa waktu, pengalaman dan sedikit *sebenernya banyak wkwk* luka yang tadi, vera rasa move on yang sekarang gak akan pernah vera dapet. Malah mungkin bakal tetep berkubang di satu masalah yang sama tanpa ada niat untuk menyelesaikan agar keadaan jauh lebih baik *sadaap xD
Dan ngeliat hasil yang begitu keren ini haha :D vera nyoba buat menginspirasi temen-temen semua biar bisa move on dari satu masalah mereka.
But you know whaaat? Meskipun udah panjang kali lebar atau 2 dikali luas bangunan *loh haha maaf maksudnya meskipun udah sedetail mungkin vera jelasin ke mereka, mereka cuman bisa angguk, tanpa bisa melakukan. Nah! Benerkan? Kayaknya iya deh, tiap orang itu emang udah punya jalannya masing-masing, dan mereka belum tentu bisa move on pake cara vera, mungkin dengan pengalaman yang lain mereka bisa move on :))) jadi motivasi itu emang gak guna, sia-sia brow! :p

Yap, emang sempet itu pikiran nanceb kayak paku di kepala. Tapi vera yakin pasti ada yang salah dari pemikiran ini, karena sebenernya kata "motivasi" itu sama sekali nggak ngandung hal negatif.
Dan akhirnya setelah melewati proses pemikiran yang amat panjang maka vera punya pendapat yang emang udah teruji di ITB dan IPB *loh haha xD
Jadi gini, sebenernya nggak ada yang sia-sia dari yang namanya memberikan motivasi, ini gak jauh beda kayak sekelompok cheer yang teriak-teriak supaya tim basket mereka menang.
Hmm dengan memberikan motivasi itu sama aja kita udah ngebangkitin lagi semangat juangnya dia, dengan motivasi itu sama aja kita udah ngebantu dia sedikitnya supaya bisa berfikir lebih lega dan terbuka.

Iyaa, tapi itu tetep gak guna kok!

Ini guna banget tau, gak mungkin kalo hal sekeren ini kamu anggap nggak berguna. Mungkin setiap orang gak bisa sukses dengan jalan yang sama, tapi seenggaknya dengan motivasi kita bisa bantu mereka buat nemuin jalan yang memang udah jadi garis takdir kehidupan mereka :))) nah itu brow!

So, Stop Complaining, And Just Do It !!!