Sabtu, 12 Juli 2014

Episode Kelabu

Seperti kemeja putih ayah yang terjatuh dalam selokan 10 tahun lalu, langitnya Bandung terlalu kelabu tadi sore. Belum lagi kemacetan yang semakin hari malah semakin parah, klakson disana-sini, membuat gerimis kecil yang sedari tadi membasahi bajuku tampak semakin sempurna. Sekarang Bandung tidak se-kembang dulu!

Sore ini kami pergi menyusuri kota Bandung dengan niat dan harapan yang baik. Meskipun hanya berdua tapi itu bukan masalah bagi kami. Pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, bertanya sana-sini berharap mendapat informasi sesempurna mungkin, tak sedikit juga obrolan "diplomatis" yang kami lakukan berharap mendapat hasil manis untuk mereka. Sedang waktu semakin ranum, keringat bercampur gerimis membuat baju semakin lembab, lengket. Ah tak apa.
Dan kami masih nihil.
Akhirnya kami harus pulang meski tanpa membawa hasil. Tidak seperti ketika pergi, saat pulang kami lebih banyak diam. Entah karena hujan yang semakin menderas atau rasa kecewa karena pulang tanpa ada satupun yang bisa dibawa.
Aku sendiri lebih banyak berfikir, menerka-nerka musabab episode hari ini. Mungkinkah karena ada niat kami yang keluar dari garis yang semestinya? Atau mungkin kami kurang bersungguh dalam melakukannya? Hm apapun itu semoga bukan keduanya, semoga ini hanya sepotong cerita kecil yang Dia rencanakan untuk kami, untuk mereka. Mungkin bukan di hari ini, mungkin bukan juga di sore ini ketika langit sekelabu kemeja putih ayah yang terjatuh di selokan. Dan mungkin juga bukan di hari ketika Bandung tidak se-kembang dulu. Mungkin esok..
Mungkin nanti..
Ya, semoga saja..
Kami, pejuang matahari tidak pernah menyerah untuk bermimpi.

----
curhat lagi
Bandung, 12 Juli 2014

Rabu, 02 Juli 2014

Tentang menerima

Benar, kan? Sudah kubilang akhir bahagia itu memang bukan milik kita.
Seperti mencari sebuah jarum dalam tumpukkan jerami, seperti mencegah tumpahnya aliran air terjun. Sekuat apapun kita memaksa, jika jalan telah tergariskan, bisa apa?

Dengan sangat berhati hati kau menuntunku, kita seperti meniti berjalan diatas sebuah tali yang akhirnya akan jatuh juga. Atau seperti menjaga gelembung udara tipis yang pasti akan pecah. Seperti itulah kenyataannya.
Tapi maaf, tidak seharusnya ini diteruskan. Kau harus paham, sebaik apapun kita berencana, ingin ini, ingin itu dan lainnya, tetap ada Dia yang Maha Tahu atas segalanya. Mau kau bilang aku pengecut karena memilih menyerah dan menerima ketimbang terus berjuang dan bertahan bersamamu, terserah.
Kita bisa apa?
Leleh mataku dan matamu.tidak cukup untuk mengubah takdir.
Namun lapang dadaku.dan dadamu mampu mengubah takdir dengan cara menerima.
Denting waktu akan menjawabnya, karena tidak ada pengorbanan yang sia-sia.
Percayalah.

Selasa, 01 Juli 2014

Cerita Untuk Malam

Tidak ada bintang gemintang malam ini, bahkan bulan pun memilih bersembunyi dibalik selimut langit. Mungkin karena bekas hujan tadi, malam terlihat tetap murung seakan tak berteman; mendung.
Padahal malam ini ada banyak cerita yang ingin kubagi dengan mereka. Semilir angin pun tak jadi masalah buatku, asalkan cerita ini berhasil kuhatamkan pada malam.

Kalian tahu ini apa namanya?
Ada degup syahdu yang sudah lama tak pernah kudengar kini samar kembali kutemukan. Ada nyanyian khas yang mendayu seolah mengajak aku bersenandung menghibur pengap pada cerita lama. Ada senyum harapan baru terlukis dari uap coklat panas yang kuseduh dalam hujan. Dia.

Aku selalu berfikir bahwa tidak ada yang kebetulan.di dunia ini, sampai aku bertemu dengan kebetulan yang benar-benar kebetulan. Kebetulan sekali dia adalah temannya dia yang juga belum pernah kukenal sebelumnya.
Dan kau tahu? Ternyata aku salah, terkadang ada beberapa awal yang tidak menentukan akhir. Awalnya kami selalu dihijab oleh canggung yang begitu elok, tidak istimewa. Tapi kini malah jadi berbeda, semua tampak hangat, ramah bahkan terlalu nyaman. Ganjil.

Ceritaku masih terlalu fajar untuk diterka bagaimana bentuk senjanya, aku juga tak begitu peduli. Nalar sudah bagiku tentang "definisi cinta milik Tere Liye". Mungkin sekarang ganjil, tapi biarkan kisah (baca: cinta) itu sendiri menggenapkan akhirnya. Mungkin satu, atau dua. Mungkin bersama atau menetap begini.

Bandung, tanggal baru di bulan Juli 2014.