Selasa, 01 Juli 2014

Cerita Untuk Malam

Tidak ada bintang gemintang malam ini, bahkan bulan pun memilih bersembunyi dibalik selimut langit. Mungkin karena bekas hujan tadi, malam terlihat tetap murung seakan tak berteman; mendung.
Padahal malam ini ada banyak cerita yang ingin kubagi dengan mereka. Semilir angin pun tak jadi masalah buatku, asalkan cerita ini berhasil kuhatamkan pada malam.

Kalian tahu ini apa namanya?
Ada degup syahdu yang sudah lama tak pernah kudengar kini samar kembali kutemukan. Ada nyanyian khas yang mendayu seolah mengajak aku bersenandung menghibur pengap pada cerita lama. Ada senyum harapan baru terlukis dari uap coklat panas yang kuseduh dalam hujan. Dia.

Aku selalu berfikir bahwa tidak ada yang kebetulan.di dunia ini, sampai aku bertemu dengan kebetulan yang benar-benar kebetulan. Kebetulan sekali dia adalah temannya dia yang juga belum pernah kukenal sebelumnya.
Dan kau tahu? Ternyata aku salah, terkadang ada beberapa awal yang tidak menentukan akhir. Awalnya kami selalu dihijab oleh canggung yang begitu elok, tidak istimewa. Tapi kini malah jadi berbeda, semua tampak hangat, ramah bahkan terlalu nyaman. Ganjil.

Ceritaku masih terlalu fajar untuk diterka bagaimana bentuk senjanya, aku juga tak begitu peduli. Nalar sudah bagiku tentang "definisi cinta milik Tere Liye". Mungkin sekarang ganjil, tapi biarkan kisah (baca: cinta) itu sendiri menggenapkan akhirnya. Mungkin satu, atau dua. Mungkin bersama atau menetap begini.

Bandung, tanggal baru di bulan Juli 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar