Aku sangat bersyukur hari ini, aku merasa
bahagia meskipun dalam keadaan kecewa. Allah selalu tahu yang terbaik, karena
Allah tidak pernah salah ketika memilih daun untuk digugurkan.
Empat juli dua
ribu lima belas, tepat tujuh hari menjelang kepulangan ke Bandung, rumah.
Berbeda dengan biasanya, ada rasa senang ketika aku menghitung tanggal-tanggal
lalu menuliskannya dalam catatan harian seperti ini. Tidak sabar, aku ingin
segera bisa memeluk ibu, satu-satunya rahim terindah yang telah Allah ciptakan
untukku.
Hari ini, aku
kembali mendapat beberapa catatan mengenai kehidupan, peringatan abstrak yang
hanya bisa dirasakan oleh beberapa orang yang memang menyadarinya. Hari ini,
aku merasa menjadi hamba dengan segala kemunafikannya yang begitu dicintai oleh
Allah. Faghfirli. Dan hari ini juga, aku mendapat jawaban atas segala
kegelisahan yang selama ini aku rasakan. Kegelisahan yang sebenarnya tidak
perlu aku khawatirkan.
Kau tahu jatuh
hati? Sebagai seorang wanita, hatiku mudah sekali tersentuh, luluh dengan keadaan
yang nyaman, lalu menginginkan keadaan nyaman itu menjadi milikku. Sayangnya,
tidak semua keadaan nyaman bisa menjadi milikku dan menetap menjadi suatu
kebiasaan yang bisa kapan saja kurasakan. Inilah awal dari segalanya.
Teman bicara. Kau
hadir sebagai teman bicara yang tiba-tiba saja selalu ada ketika sepi
menghinggap. Kehadiranmu seperti udara ketika dadaku terasa pengap. Atau, badut
lucu dengan semua kejahilannya yang bisa membuat anak-anak lupa akan balonnya
yang baru saja pecah. Perlahan waktu mengubah sesuatu yang tadinya bukan
apa-apa menjadi penuh makna dengan isyarat akan sebuah harapan.
Tidak bisa
kupungkiri, semua milikmu seperti magnet yang menghisapku rapat-rapat. Aku
selalu ingin bisa bersamamu, menghabiskan waktu, dan melupakan beberapa
aktivitas yang terkadang membuatku jemu. Bersamamu, malam serupa berteman api
unggun, sedingin dan selarut apapun tetap terasa menyenangkan, hangat.
Bagaimana ini? Hatiku tiba-tiba saja memilih tanpa bisa kukendalikan.
Merah muda
warnanya, warna paling manis untuk setiap perasaan yang kumiliki setiap hari
ketika bersamamu. Mungkinkah hatiku mulai menjatuhkan pilihannya? Sudah lama
sekali aku kehilangan perasaan itu, rasa jatuh cinta tanpa khawatir akan apapun
yang terjadi setelahnya. Iya, dulu sekali, aku bahagia merasakan hal itu, saat-saat
jatuh cinta, ketika hati hanya tahu soal mencintai, tanpa embel-embel takut
patah hati.
Namun, hal itu
sepertinya belum bisa aku dapatkan kembali. Nyatanya, kemarin, saat hatiku yang
merah jambu melompat-lompat di udara, ia masih saja memikirkan bagaimana jika
nantinya ia akan terjatuh. Rasa senang dan takut pada waktu yang sama. Beberapa
pertanyaan pun kemudian mulai membukit, bersamaan dengan semakin banyaknya
harapan yang ranum.
Tidak kuasa
menahan, suatu ketika aku bertanya, aku curahkan segalanya kepadamu.
Kuungkapkan seluruh kegilaan yang kurasakan, kuhujamkan pertanyaan-pertanyaan
yang selama ini menekan isi otakku. Aku ingin tahu, apa maksud dari kedekatan
kita, pendekatanmu, perhatianmu, kehadiranmu, kekhawatiranmu, kepedulianmu, dan
semua yang telah kau berikan.
Kau tersenyum,
benar-benar tersenyum. Kau mengangguk, dan berkata, “Perasaan ini telah ikut
ranum bersama waktu yang kita miliki, sayang”. Sesaat setelah membacanya
seperti ada bola yang baru saja keluar dari dalam dada, jantungku mulai
memainkan ritme cepat, aku gugup, aku sibuk menelan rangkaian kata-kata itu,
aku.. aku sungguh bahagia. Ternyata hatiku tidak sendirian menghadapi segala
kegilaan ini. Terima kasih, Luchukuhuwa, sudah mau menemani hatiku untuk
melompat bersama di angkasa.
Detik berikutnya
masih kita jalani hari serupa merah jambu, bahkan ia semakin memerah, aku
merasakan getaran perasan yang semakin besar, hingga aku tidak bisa membedakan
apakah itu getaran perasaanku atau perasanmu, iya, perasaan kita melebur jadi
satu.
Namun ada
sesuatu yang aneh, diantara segenap perasaan kita yang begitu luas, ada satu
titik ganjil yang belum saja bisa hilang. Ketakutan itu, keraguan itu, beberapa
perasaan abu-abu yang berkumpul menjadi satu titik kecil yang tidak bisa
kupahami. Kukira ini tidak akan menjadi masalah, karena bentuknya yang kecil
bahkan terlalu kecil untuk dianggap sesuatu yang bisa disepelekan. Namun aku
salah, aku lupa bahwa sesuatu yang kecil itu bisa tumbuh menjadi sesuatu yang
besar.
Beberapa kali,
aku menemukan titik-titik tolak dari magnet kita. Awalnya, aku menganggap hal
ini wajar, ketika dua kutub yang sama bertemu lalu saling menolak, ya, bukankah
itu sifat ilmiah yang pasti akan terjadi? Tetapi, ternyata tidak berhenti
sampai disitu, beberapa gesekan terjadi seolah memupuk titik abu ditengah
padang perasaan kita. Ia kini membesar.
Khawatir dengan
semua itu, aku mencurahkannya kepada Rabbku, sayang. Pada sujudku yang terakhir
aku berdoa untuk semua tanda tanya kita. Sebenarnya aku malu, aku bukan seorang
hamba yang taat, khilafku sering membuatNya marah sehingga beberapa kali ia
menegurku melalui beberapa kejadian yang kujadikan pelajaran berharga. Namun,
hanya kepadaNya aku memasrahkan segalanya, memintanya untuk menyelesaikan kisah
kita menjadi sesuatu yang tetap berjalan atau harus terhenti.
Ajaib, ternyata
jarak antara Alah dengan hambaNya memanglah sangat dekat, Allah berfirman,
“Apabila hambaKu bertanya mengenai Aku, maka jawablah bahwa Aku ini dekat. Aku
akan menjawab doa-doa bagi mereka yang berdoa kepadaKu..”, dan aku meyakininya,
sangat meyakininya. Sama seperti hari ini, ketika ia mengabulkan salah satu
doaku dengan tanpa waktu yang lama. Tepat setelah aku bangun dari sujudku,
pertanyaan itu terjawab.
“Belum saatnya
untuk serius”, ucapmu dengan nada begitu rendah. Oh Allah, aku tahu, sudah
seharusnya aku bersabar. Jika belum waktunya, maka pasti akan gugur juga.
Maaf, sayang,
jika aku pernah melarangmu memanggilku dengan sebutan sayang. Tidak, bukan
karena aku tidak suka, kau tidak tahu jika hatiku benar-benar berdegup lebih
kencang ketika kau melakukannya, aku hanya tidak mau kita melewati batas namun
tidak tahu sampai batas mana kita melangkah.
Tetapi,
berbahagialah, sayang, karena hari ini Allah menjawab doaku, yang kukira juga
adalah doamu, doa tentang kedaan kita, doa tentang puisi yang kehilangan rima
untuk mencari titik henti. Meski aku benar-benar berharap bahwa titik henti itu
adalah nanti. Nanti ketika kau dan aku benar-benar hidup dan beribadah bersama,
nanti ketika kita bisa duduk di halaman belakang dan memerhatikan bagaimana
cucu-cucu kita belajar berjalan, nanti ketika kita bisa bermain bersama
kucing-kucing lucu di dalam rumah, nanti ketika kau menemaniku menatap senja di
ujung pantai tempat yang paling aku suka, dan nanti, ketika salah satu di
antara kita ada yang pergi setelah sekian lama berada di bumi. Iya, nanti.
Namun, aku tidak mau menjadi orang egois, keinginanku bukanlah sesuatu hal yang
wajib terpenuhi. Aku menerima apapun kehendak Rabbku, aku menerima apapun
keinginanmu, dengan senang hati. Maka sekali lagi kupercayakan semua ini kepada
takdir, mungkin sekarang memang belum saatnya, mungkin ada orang lain yang
lebih pantas menemani hari-hari tua kita, atau mungkin, kita akan bertemu lagi
suatu saat nanti.
Dan terkahir,
percayalah sayangku, luchukuhuwa, Allah tidak pernah salah ketika berkendak.
Pasti ada hikmah yang ikut ranum bersama pertemuan kita.
Semarang