Selasa, 03 Desember 2013

Menang


Ternyata tidak, malam ini aku bisa bertahan jauh lebih baik dari kemarin. Hari ini berhasil aku lewati tanpa ada sesuatu yang leleh dari mataku. Meski perasaan itu masih mencambuk dalam dada, namun sepertinya aku sudah belajar menjadi kuda yang baik. Yang lebih tenang.

Memandang punggungmu tadi membuat jantungku berdegup lebih cepat, jemariku gemetar. Pilu dan gugup. Lama sudah aku tidak melihatmu, mungkin aku rindu? Atau kehilangan sosokmu? Atau mungkin aku yang belum terbiasa? Entahlah, namun tetap saja beribu-ribu perasaan menggangguku malam itu. Khawatir aku akan lumpuh seketika dan bingung harus berbuat apa. Dan aku sangat takut terlihat kikuk di depanmu, atau memang aku sudah terlihat kikuk di matamu? Hmm sementara malam tampak jahat, padahal kehadiranmu sudah cukup membuatku gigil tapi malam memilih untuk tidak mengerti dan malah membuat tubuhku semakin beku. Gugup.

Seharusnya mereka tidak bertemu tadi, cukup dua bola mataku yang menatapmu, yang menghindar sebisa mereka karena takut kau memergokinya. Yang sesekali membuang pandangannya dan sisanya kunikmati sendirian.Namun sepertinya kau lebih dari sadar, ketika mereka mulai kembali mencarimu, mereka yang mlikmu sudah mendapatkanku. menatapku. Lumpuh, kali ini aku benar-benar lumpuh. mungkin kikukku bertambah 100%. Tatapanmu seperti bom waktu yang baru saja meledak, meluruh, mencambuk dan mengobrak-abrik perasaanku. Seperti terlempar ke sudut ruangan tergelap yang tidak ada cahaya walau sebesar jarumpun, aku merasa lemah.

Sejenak aku berfikir, malam ini aku pasti kalah lagi... Yang menggigil dan sekuat tenaga menahan pilu oleh sebabmu. Yang menggigil bukan sebab musim penghujan yang ramah. Yang mengigil oleh sebab ingatan dan kenangan yang memenuhi kepalaku. Yang menggigil sambil terucap namamu, berharap kau datang dan meletakan kembali "kita" yang sudah kau kemasi. Biasanya seperti itu, ini sudah hampir setahun, namun aku masih tetap mengulang pekerjaan bodoh seperti itu. Tapi tidak untuk kali ini, aku sudah cukup lelah jika harus melulu begitu! cepat atau lambat kehilanganmu tetap akan datang setelah aku berhasil memilikimu.

Kutarik nafas terdalamku, sedikit demi sedikit kugenggam takdirku. mencoba mengalahkannya dan melangkah meninggalkan tempat itu. Dengan senyum atas kemenanganku. Mungkin ini yang mereka sebut dengan menerima. Ikhlas. Dimana aku bisa berdamai dengan perasaanku dan menjaganya hingga nanti
Iya,
Malam ini
Aku Menang :)

"Untukmu yang sudah terkalahkan, terimakasih atas semua kisah dan takdir yang memisah"

Menangis

Mereka bukan cengeng! Tangisan mereka juga bukan untuk meminta belas kasihan. Kamu tahu? Bahwa setiap tetesan air mata mereka yang jatuh luruh dari bola mata indahnya adalah cara menghilangkan sedikit demi sedikit keresahan dan kejengahan yang dirasakan. Dan kamu tahu? Setiap tetes yang keluar juga merupakan tambahan tenaga untuk menjadi lebih tegar dan tabah. Dan apakah kamu tahu sebesar apa usaha mereka menyembunyikan air mata emasnya? Mereka bahkan tidak ingin kau tahu akan kehadiran tetes-tetes yang menguatkan itu :'). Mereka adalah wanita yang tabah, bukan?


Kehilangan

    Mengenai kehilangan yang pasti datang. Aku rela.

Kasih, jika kau sekarang ingin berlari, maka berlarilah secepat kilat yang menyambar di sore hari. Jika kau ingin bersembunyi, maka bersembunyilah semampumu seperti bersembunyinya jarum diantara tumpukan jerami.
Tapi jika kau ingin kulepas pergi, maka terbanglah dengan tenang seperti lepasnya balon biru kesukaan dari tangan anak lelaki kecil.
Sedih memang, raut muka bangga karena memiliki sekarang tidak berarti apa-apa. Namun satu, ia belajar tentang arti dari kehidupan.

"Bahwa ketika ia berhasil memiliki maka harus bersiap pula untuk kehilangan".

Kepalanya mendongak ke langit. Menatap lekat balon birunya yang kini melayang jauh jauh dan semakin jauh...

Ia tersenyum.

Satu lagi, kulihat tangan mungilnya melambai :')

Sabtu, 02 November 2013

Forgive Me

"jangan mengingatku sebagai yang melepasmu pergi, ingat aku sebagai yang menuntunmu kembali --- ke hati yang lain". (@sebuahego)

 Detak jantungku terasa cepat, seketika aliran darah terasa panas mengalir dalam tubuhku.


Sudah lama aku terdiam disini bertemankan sepi, hanya duduk dan melihat orang yang berlalu-lalang. Seseorang dari mereka kadang ikut duduk di sebelahku untuk sekedar mendengar segukkan dari airmataku. Tapi itu tidak lama, belum ada yang bisa duduk lebih lama disampingku selain dirimu.


Masih kuingat hari itu, ketika aku mulai bermimpi bisa merasakan pagi, senja dan dingin malam bersamamu. Berada di pulau yang sama denganmu, berada di tempat yang hanya berjarak centimeter denganmu. Iya, hanya itu yang ada di kepalaku. kita terlalu dekat, dan aku terlalu nyaman. Kau ingat perdebatan kecil kita? Kita memang sering mendebatkan hal kecil dan tidak penting, kau memang suka melihatku susah dan berpikir keras, "itu sungguh manis", ucapmu senang.


Hingga akhirnya...

Malam itu, kau menatapku lekat seolah menunjukan bahawa kau sedang bersungguh-sungguh. Lalu kau mulai bercakap dari A sampai Z
"Aku menyayangimu, sungguh. Tapi aku tak bisa bersamamu, egoisku pasti mengalahkan kita".
Luruh.sesak rasanya harus mendengar ucapanmu itu. Aku hanya bisa tertunduk dan mengangguk sebisaku. Menahan air yang dengan liarnya mencoba keluar dari kelopak mataku. Aku patah. Hal ini juga yang membuat yakinku goyah, kadang aku berfikir bahwa kau tidak sedang mencinta namun pada kenyataannya aku terlena. Tetap terlena.
Tapi sekali lagi, caramu menatapku, dewasamu yang sabar akan diriku, dan wibawamu yang menuntunku, membuatku kembali yakin bahwa kau memang mencinta dan itu membuatku terlena. Sangat terlena.

-----

Seminggu yang lalu, aku yang bodoh masih saja bertanya mengenai kita.
"Tidak bisakah kita jalani seperti ini?", ucapmu berat.
"Maaf, tapi aku tak punya banyak waktu"
Mendengar jawabanku kau tetap menggeleng, entah karena memang tidak mencinta atau takut membuatku merana, lagi-lagi aku tak paham.
Aku menarik nafas dalam-dalam, memejam.
"Kalau begitu 'kita' hanya bisa sampai disini..." ucapku lambat.
"Kenapa? aku nyaman dengan semua keadaan ini, aku tidak bisa memajukan satu langkah untuk hubungan kita, aku takut kita berakhir".
"Itu, nyaman itu yang salah! Aku juga takut, takut akan semua kenyamanan ini. Jika kau tak bisa membuatnya menjadi lebih nyata, aku takut terperangkap di dalamnya dan pasti sulit untuk keluar"
bola mataku memerah, kesepian semakin memecah.
lama kau terdiam, hanya ada senyap yang semakin lama semakin menggerogoti percakapan kita.
"Baiklah, jika itu inginmu..." ucapmu berat.
Hari itu, tidak pernah kusangkah hal yang selama ini tak pernah kuharapkan malah terjadi. Entah apa yang merasuki, tetiba saja aku yang meminta kita untuk mengakhiri. Namun aku tahu, kita tidak bisa terus menerus seperti ini, karema hidup adalah tentang keputusan dan pilihan. Kamu pergi. Benar-benar pergi. Aku duduk, dan tetap duduk. Memuaskan diri dengan melihat punggung itu yang semakin hilang termakan jarak.

Disini, aku masih terduduk menatap tempat kosong di sampingku. Sekarang yang kulakukan hanya berperang dengan fikiranku sendiri yang kadang memintamu untuk kembali tapi kemudian menamparnya lagi. Begitu terus, setiap hari, setiap waktu.
kadang aku ingin teriak,
 "pulanglah!"
Dengan tegasnya, fikiranku yang lain berkata,
"Jangan! ini lebih baik. Baik untukmu, baik untuknya".
"Apanya yang baik??"
"Kau akan tahu, takdir Allah akan menjawab semuanya. Percayalah". 
Lelah aku seperti ini, selalu begitu, terus terus dan terus.
Dan aku masih tetap disini, memilih diam lalu melihat punggungmu dari kejauhan yang hampir bias karena jarak.


Sekarang, bimbang itu tetap menjelma dalam fikiranku, mereka seperti sedang menelanku hidup-hidup. Mereka menekanku dan memaksaku untuk merasakan semuanya.

Sampai aku bertemu teman lama, aku tak sengaja mendengar ceritanya. Ini sungguh keadaan yang melemahkanku, aku patah lagi. Kudengar kau sekarang bersamanya. Entah hubungan apa yang kalian pilih tapi ini tetap tamparan untukku.Sudahlah, ini terlambat.


Maafkan aku, ternyata bukan egoismu yang memisahkan kita. tapi egoisku... 
Aku yang terlalu takut. Aku yang terlalu bodoh. Aku yang tidak sabaran.

Kenanglah aku...
Bukan sebagai orang yang meninggalkanmu. Tapi sebagai yang menuntunmu kembali --- ke hati yang baru.