"jangan mengingatku sebagai yang melepasmu pergi, ingat aku sebagai yang menuntunmu kembali --- ke hati yang lain". (@sebuahego)
Detak jantungku terasa cepat, seketika aliran darah terasa panas mengalir dalam tubuhku.
Sudah lama aku terdiam disini bertemankan sepi, hanya duduk dan melihat orang yang berlalu-lalang. Seseorang dari mereka kadang ikut duduk di sebelahku untuk sekedar mendengar segukkan dari airmataku. Tapi itu tidak lama, belum ada yang bisa duduk lebih lama disampingku selain dirimu.
Masih kuingat hari itu, ketika aku mulai bermimpi bisa merasakan pagi, senja dan dingin malam bersamamu. Berada di pulau yang sama denganmu, berada di tempat yang hanya berjarak centimeter denganmu. Iya, hanya itu yang ada di kepalaku. kita terlalu dekat, dan aku terlalu nyaman. Kau ingat perdebatan kecil kita? Kita memang sering mendebatkan hal kecil dan tidak penting, kau memang suka melihatku susah dan berpikir keras, "itu sungguh manis", ucapmu senang.
Hingga akhirnya...
Malam itu, kau menatapku lekat seolah menunjukan bahawa kau sedang bersungguh-sungguh. Lalu kau mulai bercakap dari A sampai Z
"Aku menyayangimu, sungguh. Tapi aku tak bisa bersamamu, egoisku pasti mengalahkan kita".Luruh.sesak rasanya harus mendengar ucapanmu itu. Aku hanya bisa tertunduk dan mengangguk sebisaku. Menahan air yang dengan liarnya mencoba keluar dari kelopak mataku. Aku patah. Hal ini juga yang membuat yakinku goyah, kadang aku berfikir bahwa kau tidak sedang mencinta namun pada kenyataannya aku terlena. Tetap terlena.
Tapi sekali lagi, caramu menatapku, dewasamu yang sabar akan diriku, dan wibawamu yang menuntunku, membuatku kembali yakin bahwa kau memang mencinta dan itu membuatku terlena. Sangat terlena.
-----
Seminggu yang lalu, aku yang bodoh masih saja bertanya mengenai kita.
"Tidak bisakah kita jalani seperti ini?", ucapmu berat.
"Maaf, tapi aku tak punya banyak waktu"Mendengar jawabanku kau tetap menggeleng, entah karena memang tidak mencinta atau takut membuatku merana, lagi-lagi aku tak paham.
Aku menarik nafas dalam-dalam, memejam.
"Kalau begitu 'kita' hanya bisa sampai disini..." ucapku lambat.
"Kenapa? aku nyaman dengan semua keadaan ini, aku tidak bisa memajukan satu langkah untuk hubungan kita, aku takut kita berakhir".
"Itu, nyaman itu yang salah! Aku juga takut, takut akan semua kenyamanan ini. Jika kau tak bisa membuatnya menjadi lebih nyata, aku takut terperangkap di dalamnya dan pasti sulit untuk keluar"bola mataku memerah, kesepian semakin memecah.
lama kau terdiam, hanya ada senyap yang semakin lama semakin menggerogoti percakapan kita.
"Baiklah, jika itu inginmu..." ucapmu berat.Hari itu, tidak pernah kusangkah hal yang selama ini tak pernah kuharapkan malah terjadi. Entah apa yang merasuki, tetiba saja aku yang meminta kita untuk mengakhiri. Namun aku tahu, kita tidak bisa terus menerus seperti ini, karema hidup adalah tentang keputusan dan pilihan. Kamu pergi. Benar-benar pergi. Aku duduk, dan tetap duduk. Memuaskan diri dengan melihat punggung itu yang semakin hilang termakan jarak.
Disini, aku masih terduduk menatap tempat kosong di sampingku. Sekarang yang kulakukan hanya berperang dengan fikiranku sendiri yang kadang memintamu untuk kembali tapi kemudian menamparnya lagi. Begitu terus, setiap hari, setiap waktu.
kadang aku ingin teriak,
"pulanglah!"Dengan tegasnya, fikiranku yang lain berkata,
"Jangan! ini lebih baik. Baik untukmu, baik untuknya".
"Apanya yang baik??"
"Kau akan tahu, takdir Allah akan menjawab semuanya. Percayalah".Lelah aku seperti ini, selalu begitu, terus terus dan terus.
Dan aku masih tetap disini, memilih diam lalu melihat punggungmu dari kejauhan yang hampir bias karena jarak.
Sekarang, bimbang itu tetap menjelma dalam fikiranku, mereka seperti sedang menelanku hidup-hidup. Mereka menekanku dan memaksaku untuk merasakan semuanya.
Sampai aku bertemu teman lama, aku tak sengaja mendengar ceritanya. Ini sungguh keadaan yang melemahkanku, aku patah lagi. Kudengar kau sekarang bersamanya. Entah hubungan apa yang kalian pilih tapi ini tetap tamparan untukku.Sudahlah, ini terlambat.
Maafkan aku, ternyata bukan egoismu yang memisahkan kita. tapi egoisku...
Aku yang terlalu takut. Aku yang terlalu bodoh. Aku yang tidak sabaran.
Kenanglah aku...
Bukan sebagai orang yang meninggalkanmu. Tapi sebagai yang menuntunmu kembali --- ke hati yang baru.
waw.. it's so beautiful word :)
BalasHapusi can't wait your story more... see you later
thanks sistaa, your story is interesting too :) don't stop to write :)
Hapusaku suka banget sama tulisan yang ini :)
BalasHapus