Ibu pernah bilang, "Manusia itu perlu jatuh, mereka harus tahu bagaimana rasanya jatuh agar tahu rasa bersyukur sehingga hidupnya jadi lebih baik".
Bismillah, semangat ya, Vera! ^^
Ibu pernah bilang, "Manusia itu perlu jatuh, mereka harus tahu bagaimana rasanya jatuh agar tahu rasa bersyukur sehingga hidupnya jadi lebih baik".
Bismillah, semangat ya, Vera! ^^
Ini serius. Ini mengenani Crazy Little Thing Called Love atau You're The Apple of My Eye. Mereka terlalu hebat, rasanya banyak perasaan yang bisa muncul gitu aja kalo nonton dua film itu, keren :''')
Udah sih, cuma mau bilang itu aja hehehe
Aku terkejut. Kupikir selama ini aku telah berhasil mengalahkan segalanya. Melepaskan dan merelakan hal yang bukan lagi untukku.
Kita sering bertemu, tak ada yang istimewa, semua biasa saja.
Namun tadi, tetiba dahiku mengernyit, terheran atas apa yang baru saja dirasakan oleh hati. Rasanya seperti ada ledakan, tak tertahan dan bernafas di dalam dada.
Sepele, karena tadi aku hanya melihatmu datang, bukan ke arahku tentunya, karena aku tahu kau tidak akan pernah berjalan kembali setelah peristiwa kemarin.
Lalu sekarang, aku merasa malam sedang mempuisikan segalanya. Tentang aku bukan kita, iya, hanya aku.
Aku hanya tersenyum mendengar sajak kecil milik malam saat ini. Mengingatmu. Memori terputar begitu saja tanpa kuminta. Lalu harapan itu mulai menyemak kembali, seperti tanaman liar tanpa izin yang tumbuh di sabana. Ini menyebalkan.
Tapi aku juga tahu, kau pun sedang tersenyum, bukan? Terbuai oleh sajak yang sama, dan berbisik dalam hati mengucap harap. Iya, berharap dia yang saat ini ada dalam hatimu mampu merasakan getaran dalam dada. Aku tahu, dia.
Desember, 05
Malam di Bantir
Tidak terasa, kini aku memasuki bulan keempat tinggal disini. Iya, Semarang, Kota tanpa awan di musim panas. Aku tidak menyangka sebelumnya akan tinggal disini, setidaknya mungkin 3 tahun kedepan (aaamiiin).
Kulitku terlihat lebih cokelat sekarang, mungkin karena kota ini adalah kota tanpa awan di musim panas, sehingga sinar matahari seperti langsung menyinari kota tanpa ada penghalang. Namun aku berani jamin, sinar matahari di kota ini adalah yang paling indah, hangat, setidaknya alergi dinginku jarang kambuh terkecuali di musim penghujan.
Sekarang disini sedang musim penghujan, kukira setiap tempat akan berubah menjadi kota payung. Kau harus tahu bagaimana wajah kota yang sedang disiram hujan, menurutku hujan tetap cantik di kota mana pun ia turun. Aku juga suka melihat mereka yang tidak takut hujan, orang-orang yang tetap beraktivitas meski awan sedang menenun air di atas langit. Karena aku rasa hujan adalah teman, dan bukan halangan untuk melakukan pekerjaan.
Sama seperti disini, orang-orang di kota ini tetap beraktivitas saat hujan, mereka juga ramah-ramah.
Disini aku punya keluarga baru, entah kenapa aku merasa nyaman berada di dekat mereka. Iya mereka adalah Erinda, Erika, Mirza, Mbak Atik, Mbak Ine, dan Mbak Tyas. Banyak bukan? Aku bahagia bertemu mereka disini, setidaknya aku tidak merasa sendiri di kota tanpa awan ini.
Kau harus kenal mereka, ketika tertawa bersama mereka waktu seperti membeku, rasanya seperti sudah lama kenal dan bertemu :')
Alhamdulillah, Allah menyayangiku dengan sempurna. Aku bahagia.