Selasa, 09 Desember 2014

Forgotten

Aku terkejut. Kupikir selama ini aku telah berhasil mengalahkan segalanya. Melepaskan dan merelakan hal yang bukan lagi untukku.

Kita sering bertemu, tak ada yang istimewa, semua biasa saja.
Namun tadi, tetiba dahiku mengernyit, terheran atas apa yang baru saja dirasakan oleh hati. Rasanya seperti ada ledakan, tak tertahan dan bernafas di dalam dada.
Sepele, karena tadi aku hanya melihatmu datang, bukan ke arahku tentunya, karena aku tahu kau tidak akan pernah berjalan kembali setelah peristiwa kemarin.

Lalu sekarang, aku merasa malam sedang mempuisikan segalanya. Tentang aku bukan kita, iya, hanya aku.
Aku hanya tersenyum mendengar sajak kecil milik malam saat ini. Mengingatmu. Memori terputar begitu saja tanpa kuminta. Lalu harapan itu mulai menyemak kembali, seperti tanaman liar tanpa izin yang tumbuh di sabana. Ini menyebalkan.
Tapi aku juga tahu, kau pun sedang tersenyum, bukan? Terbuai oleh sajak yang sama, dan berbisik dalam hati mengucap harap. Iya, berharap dia yang saat ini ada dalam hatimu mampu merasakan getaran dalam dada. Aku tahu, dia.

Desember, 05
Malam di Bantir

2 komentar: