Benar, kan? Sudah kubilang akhir bahagia itu memang bukan milik kita.
Seperti mencari sebuah jarum dalam tumpukkan jerami, seperti mencegah tumpahnya aliran air terjun. Sekuat apapun kita memaksa, jika jalan telah tergariskan, bisa apa?
Dengan sangat berhati hati kau menuntunku, kita seperti meniti berjalan diatas sebuah tali yang akhirnya akan jatuh juga. Atau seperti menjaga gelembung udara tipis yang pasti akan pecah. Seperti itulah kenyataannya.
Tapi maaf, tidak seharusnya ini diteruskan. Kau harus paham, sebaik apapun kita berencana, ingin ini, ingin itu dan lainnya, tetap ada Dia yang Maha Tahu atas segalanya. Mau kau bilang aku pengecut karena memilih menyerah dan menerima ketimbang terus berjuang dan bertahan bersamamu, terserah.
Kita bisa apa?
Leleh mataku dan matamu.tidak cukup untuk mengubah takdir.
Namun lapang dadaku.dan dadamu mampu mengubah takdir dengan cara menerima.
Denting waktu akan menjawabnya, karena tidak ada pengorbanan yang sia-sia.
Percayalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar