Aku tahu, sekarang terlalu pagi untuk menangis.
Aku tahu, sekarang terlalu pagi untuk meminta kembali.
Aku tahu, sekarang terlalu pagi untuk berada di samping mereka.
Kalian tidak akan mengerti, ketika rindu mulai datang dan mengutuk bagai seorang Tuhan.
Kalian tidak akan mengerti, ketika dinding jarak terlihat semakin tinggi dan ia menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya seperti srigala yang siap memangsa.
Kalian tidak akan mengerti, tentang lemah dan kuat, bahwa menangis tidak selalu karena lemah, tidak selalu karena cengeng. Saat hati sudah tak mampu memeluk beban yang ada, maka dikeluarkannya melalui mata hingga ia bisa merasa kuat lagi dan mampu kembali berjuang. Menangis adalah pengumpulan tenaga yang baru bukan tanda kandas apalagi menyerah.
Ibu, aku ingin, sungguh ingin, berlari berhamburan untuk memelukmu secepatnya lalu membunuh semua rindu atau jarak yang selama ini membuatmu takut.
Ibu, aku ingin, sungguh ingin, tertidur lagi dalam pelukanmu yang nyata, lalu kau mengawasiku tiap waktu, menatapku lekat dalam diam agar aku tak diganggu malam.
Ibu, aku ingin, sungguh ingin, mendengar lagi bisikan-bisikan doa dan harapanmu di telingaku dengan tangan yang tidak pernah lepas untuk menggenggamku.
Ibu, aku rindu, sungguh sangat rindu. Namun tak ada yang bisa kulakukan selain berdoa dan bertasbih kepadaNya, meminta dengan sungguh agar kau tetap bahagia.
Ibu, aku janji akan cepat kembali, menemuimu dengan membawa sejuta kebanggaan lalu kita bisa mengukir senyum bersama.
Anakmu,
Semarang, 10 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar