Entah mulai kapan aku mencintai hujan. Rintik air yang turun dari selimut bumi itu seringkali menjelma lorong waktu yang bisa menyeretku kembali ke masa-masa dulu. Sayangnya, tak banyak hal yang menyenangkan dari masa lalu. Mereka hanyalah puing kehidupan, dan buatku mereka tidak perlu banyak dikenang, hanya akan menguras lelah nantinya.
Dan malam ini, langit kembali menenun kisahnya melalui awan. Karena jumlahnya yang tak lagi tertahankan, mereka yang kucinta akhirnya kembali datang.
Aku malas bertemu wajah kusam dari masa lalu. Entah harus apa, bahagia atau kecewa. Karena aroma tanah basah adalah aroma terbaik yang Allah cipta, karena gemericik air yang menari adalah suara terindah dari Tuhan dan tidak bisa kupungkiri resonasi kisah-kisah itu adalah juga keagungan Allah yang dititipkan melalui hujan.
Sesak memang, jika aku harus kembali mengenal luka yang seharusnya sudah pergi jauh. Tapi tahukah engkau? Hujan dan resonasinya bukanlah alasan untuk kembali termenung, terduduk dan terseguk oleh sebab luka. Anugrah itu ikut turun bersama hujan sebab Allah mu ingin supaya engkau dapat mengingat kembali masa lalu agar dijadikannya pelajaran, sehingga tidak terjadi hal yang serupa. Maha Besar Allah ku.
Bergembiralah kawan, sebab engkau baru saja dikasihi olehNya. Tanaman pun tahu arti bersyukur, maka tidak sepantasnya kalian lupa dan menjadi buta. Bukan keluhan atau kata menyesal. Hujan itu indah, bukan? Syukurilah.
Sabtu, 05 April 2014
Air Mata Penuh Anugrah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar